Cita-Cita Kami

" Terwujudnya pelajar muslim yang berilmu, berakhlak mulia, dan terampil dalam rangka menegakkan dan menjunjung tinggi nilai-nilai Islam sehingga terwujud masyarakat Islam yang sebenar-benarnya. "

Berjuang dan Berdakwah dalam Rabithah ini...

“Dan yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman). Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang ada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka. Akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka.” (Al Anfal : 63)

Mari Bergabung Bersama Keluarga IPM Imogiri

" Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik. " (Ali `Imron : 110)

Musyawarah Cabang PC IPM Imogiri

Agenda Kegiatan Kami

Musyawarah Cabang PC IPM Imogiri

Agenda Kegiatan Kami


Tampilkan postingan dengan label Etalase. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Etalase. Tampilkan semua postingan

Gerakan Anti Valentine


Goa Cerme Imogiri : Wisata Alam yang Penuh Histori

Anda yang penat dan ingin mencari tempat tenang tak salah berlibur ke objek wisata di bagian selatan Kabupaten Bantul. Tempat wisata itu adalah Gua Cerme. Selain tenang, pemandangan alamnya indah dan asri.

Obyek wisata alam Gua Cerme terletak di dusun Srunggo, Selopamioro, Imogiri, Bantul, sekitar 23 kilometer dari Kota Jogja. Dari terminal Giwangan, Anda lurus ke arah selatan hingga menemukan Jembatan Ciluk, dan ambil ke arah kanan. Ketika menuju Gua Cerme ini perjalanan memang sedikit menanjak. Anda pun tidak perlu khawatir tersesat menuju Gua Cerme karena di setiap jalannya sudah terpasang plang besar penunjuk arah menuju Gua yang sangat indah ini.

Gua Cerme dulunya digunakan oleh para Walisongo untuk menyebarkan agama Islam di Jawa. Gua ini juga digunakan sebagai salah satu lokasi pertemuan para Walisongo untuk membahas berbagai rencana mengembangkan Islam, di antaranya adalah rencana mendirikan Masjid Agung Demak.
Harga tiket masuk ke objek wisata ini adalah Rp3.250 per orang. Beberapa langkah dari loket tiket, Anda langsung dapat menimati sejuknya udara dengan pemandangan jejeran pohon yang menjulang tinggi. Sedangkan pemandangan dari sisi utara, Anda dapat melihat keindahan Kabupaten Bantul dan Kota Jogja dari ketinggian.

Di obyek wisata alam Gua Cerme terdapat beberapa Gua lain yang lebih kecil seperti Gua Dalang, Gua Ledek, Gua Badut dan Gua Kaum yang banyak digunakan orang untuk bersemedi.
Kuswanto, yang bertugas sebagai Sub Koordinator Unit Pelayanan Kerja (UPK) Gua Cerme menerangkan bagi yang memiliki nyali dapat juga dapat menelusurinya hingga di pengujung Gua dengan jarak tempuh mencapai 1,2 kilometer mencapai waktu perjalanan 1,5 jam hingga 2 jam dan harus rela terendam air.
“Wisatawan yang ingin menelusuri Gua Cerme harus didampingi pemandu wisata dari sini,” kata Kuswanto.
Biaya pemandu dengan rombongan di atas 15 orang adalah Rp20.000 per orang. Bila kurang dari 15 orang biaya Rp30.000 per orang. Untuk sewa senter Rp5.000 per orang.

Gua ini terdiri dari banyak ruangan dengan bentuk yang berbeda-beda, bahkan mencapai 17 bagian ruangan. Setiap ruangan memiliki nama sendiri. Untuk kembali pun Anda tidak perlu khawatir menelusuri Gua.
Jalan setapak dengan pemandangan pedesaan dapat Anda lalui sebagai arah menuju kembali ke tempat bibir Gua Cerme di Dusun Srunggo, Selopamioro, Imogiri, Bantul. Bagaimana, Anda tertarik?(Wartawan Harian Jogja/Garth Antaqona)

Menikmati Hangatnya "Wedang Uwuh" Khas Imogiri

BERWISATA ke Imogiri rasanya tak lengkap tanpa mencicip segelas hangat wedang uwuh yang sanggup mencairkan kedinginan cuaca yang semula menyergap.

Bila Anda datang ke tempat wisata di Imogiri dimana terdapat makam raja-raja, sempatkanlah waktu untuk menepi sejenak dan mencoba minuman bernama wedang uwuh yang merupakan minuman khas Imogiri.

Dulunya, minuman ini merupakan minuman para kerabat keraton dan menjadi sajian khas yang memenuhi sederet jamuan acara keraton. Namun, seiring perkembangan zaman, minuman ini pun dapat dicicipi dengan mudah oleh masyarakat luas.

Jika Anda tertarik mencobanya, cobalah mampir ke warung ibu Pailah yang lokasinya tepat berada di depan pintu masuk makam raja-raja. Di sini, segelas wedang uwuh siap menghangatkan tubuh Anda.

"Aslinya itu minuman wedang uwuh bernama jahe cengkeh. Kalau bahasa Indonesianya uwuh itu sampah," ucap Ibu Pailah kepada okezone saat ditemui di warungnya di Imogiri, Yogyakarta, Sabtu (31/12/2011).

Minuman yang dibuat dari daun-daunan serta diberi pemanis dari gula batu ini serta diseduh dengan air panas diyakini punya khasiat yang baik buat tubuh Anda. Minuman ini akan mengeluarkan warna merah yang berasal dari daun secang.

"Di dalam minuman wedang uwuh ini manfaatnya banyak sekali. Daun secang yang menimbulkan warna merah tersebut dapat menurunkan kolesterol dan darah tinggi," bebernya.

Tergelitik dengan penjelasan Ibu Pailah, saya pun menyeruput wedang uwuh yang telah saya pesan. Dan, benar saja apa yang dikatakan Ibu Pailah jika minuman ini begitu menghangatkan. Saat meminumnya, keringat pun langsung mengalir deras.

Bahkan, bila Anda sedang tidak fit maka keringat Anda akan mengeluarkan aroma tak sedap akibat kotoran di dalam tubuh Anda yang keluar, seperti dijelaskan Ibu Pailah.

Untuk menikmati wedang uwuh, Anda tak perlu mengeluarkan biaya mahal. Cukup Rp 2 ribu saja. Murah meriah tapi sangat menyehatkan bukan? (ind)
(tty)
 

Air Terjun Srigethuk, Oase di Gunungkidul

Kabupaten Gunungkidul di Provinsi DI Yogyakarta makin terkenal dengan pantai-pantai barunya yang indah. Namun, selain pantai, wilayah ini juga dianugerahi dengan keindahan alam lain yakni gua dan air terjun. Air terjun Srigethuk adalah salah satu lokasi wisata baru yang menjadi buah bibir selama setahun terakhir ini.

Ketika saya berkunjung ke Srigethuk akhir pekan lalu, kesan pertama saya adalah adanya kemiripan dengan Green Canyon di Jawa Barat. Namun, tentu saja setiap lokasi memiliki keunikan sendiri-sendiri.

Pada dasarnya, inti objek wisata Srigethuk ini adalah tiga air terjun yang berada dalam satu lokasi. Ketiga air terjun tersebut jatuh di bebatuan yang sama kemudian bersama-sama mengalir di Sungai Oya. Masing-masing air terjun tersebut berasal dari tiga sumber mata air, yaitu Dong Poh, Ngandong, serta Bleberan.  Selain ketiga air terjun utama, ada beberapa air terjun kecil — dalam bahasa Jawa disebut kriwikan — di lokasi tersebut.

Objek wisata ini masih cukup baru sehingga infrastruktur pun masih terbatas. Namun, jangan khawatir, sarana dasar seperti toilet dan warung makan sudah tersedia di sini. Hingga saat ini, objek wisata Srigethuk masih dikelola secara lokal oleh pihak Desa Bleberan.

Walaupun sarana masih terbatas, pihak pengelola telah membangun tangga batu dari tempat parkir menuju ke tepi sungai, sehingga wisatawan tidak perlu khawatir ketika menuruni tebing. Butuh waktu sekitar 5-10 menit untuk mencapai bibir sungai. Setibanya di pinggir sungai Oya, Anda akan dimanjakan dengan paduan warna kehijauan sungai serta tumbuh-tumbuhan yang mengelilinginya. Pohon-pohon kelapa menjulang tinggi tertiup angin.

Dari sini Anda tidak dapat langsung melihat air terjun utama, hanya sebuah air terjun kecil di kejauhan. Anda harus menaiki rakit untuk mencapai air terjun Srigethuk. Di sini Anda harus membayar Rp 5.000 per kepala untuk perjalanan pulang-pergi. Ada dua buah rakit yang beroperasi di sungai itu, yang mengangkut wisatawan secara bergantian.



Butuh waktu sekitar 10 menit untuk mencapai air terjun utama. Sebenarnya jaraknya tidak terlalu jauh, namun rakit berjalan sangat lambat. Dari atas rakit Anda dapat mengabadikan pemandangan yang memang mayoritas didominasi warna hijau. Semakin dekat, air terjun Srigethuk (yang juga dikenal dengan nama Slempret) ini semakin menakjubkan. Ketiga air terjun jatuh dari ketinggian sekitar 25 meter. Ketiganya bergabung menjadi satu di bebatuan yang berwarna kekuningan di bawahnya.

Setelah turun dari rakit Anda harus menyeberangi batu-batu basah itu untuk mendekati air terjun. Rasakan sensasi mandi di bawah Srigethuk! Banyak wisatawan yang memanfaatkan waktu untuk mandi dan berenang di sungai sekitar air terjun. Hijaunya air di sini adalah karena lumut, bukan karena limbah, sehingga aman untuk mandi.

Beberapa bagian dari Gunungkidul merupakan tanah tandus sehingga air yang berasal dari Sungai Oya dan air terjun Srigethuk bagaikan oase di Desa Bleberan ini. Air dimanfaatkan untuk pengairan daerah pertanian penduduk setempat. Vegetasi yang umum di wilayah tersebut adalah jagung, jati, serta kayu putih.

Bila sudah puas bermain-main di air terjun, Anda dapat menumpang rakit untuk kembali. Apabila perut sudah melilit, ada beberapa warung makan di sekitar tangga menuju ke tempat parkir. Cobalah salah satu menu khas Gunungkidul, yaitu tiwul. Tiwul adalah makanan yang dibuat dari singkong. Secara umum, tiwul manis dimakan untuk makanan ringan.



Namun, di Gunungkidul serta beberapa daerah sekitarnya tiwul ini dijadikan pengganti nasi yang dimakan dengan lauk-pauk. Cukup dengan Rp 4.000 Anda dijamin kenyang makan tiwul berlauk tempe penyet!
Menuju ke Srigethuk

Dari Yogyakarta, Srigethuk dapat dicapai melalui jalan Yogya-Wonosari. Sebelum sampai di Wonosari, tepatnya setelah lapangan udara Gunungkidul,  Anda harus membelok ke kanan menuju ke Playen. Sampai di pertigaan pasar Playen, Anda kembali membelok ke kanan untuk menuju ke arah Desa Bleberan. Setelah itu akan ada penanda arah untuk menuju ke Srigethuk.

Tanda-tanda yang tersedia cukup banyak. Jalanan dari Yogyakarta hingga ke mulut Desa Bleberan sangat baik, namun setelah itu cukup buruk karena banyak bagian yang belum diaspal. Setiap orang yang berkunjung ke Srigethuk dipungut biaya Rp 2.000 sementara mobil Rp 3.000. Biaya itu sudah termasuk ongkos parkir, jadi masih sangat murah!

Selain Srigethuk, Anda juga dapat berkunjung ke Gua Rancang yang berada di desa itu. Biaya yang Anda bayarkan sudah termasuk kedua lokasi wisata sehingga Anda tidak perlu membayar lagi. Nah, saatnya wisata hemat ke Gunungkidul!

Oleh Olenka Priyadarsani

Ramadhan dengan Berbagai Musim Di Jepang

Puasa di Jepang sebenarnya sama dengan di Indonesia, yakni menahan haus dan lapar serta godaan lainnya. Hanya saja, jika di Indonesia setiap tahun dilalui dengan musim dan iklim yang sama. Di Jepang bisa melalui musim yang berbeda. Bulan puasa di “Negeri Sakura” Jepang biasa dilalui dalam empat episode. Yaitu episode musim panas, gugur, dingin, dan musim semi. Musim panas pada Juni-Agustus, musin gugur September-November, musim dingin Desember-Februari, dan musim semi Maret-Mei.

Jembatan Gantung, Alternatif Wisata di Imogiri

Bagi anda pecinta olahraga bersepeda di Jogja, Imogiri adalah tempat favorit untuk dikunjungi.Terutama di lingkungan makam raja raja dan Makam seniman. Selain jaraknya yang relatif ideal untuk olah raga sepeda, juga wisata kuliner buburnya di pagi hari. Dicampur lagi dengan seduhan wedang uwuh yang makin menghangatkan badan.

Kalau anda ingin suasana yang lain, anda bisa meneruskan kayuhan sepeda anda 3 km lagi kearah selatan dari pertigaan Kebon Agung.

IMOGIRI: Unik Penuh Aroma Masa Lalu

Imogiri... sebuah nama yang ketika mendengarnya, kita seakan terbius terbawa kepada keadaan dan suasana jauh di masa silam. Ya, benar. Imogiri adalah sebuah kawasan kota tua yang berakar dari kerajaan Mataram Islam. Kesan tua namun kokoh, uzur tapi unik, melekat kuat pada kota itu hingga saat ini. Pada kesan tua dan unik itulah tersimpan sejuta pesona Imogiri.
Kawasan yang terletak 17 km di sebelah selatan kota Yogyakarta atau 12 km ke arah Timur dari kota Bantul ini, juga terkena imbas peristiwa