Cita-Cita Kami

" Terwujudnya pelajar muslim yang berilmu, berakhlak mulia, dan terampil dalam rangka menegakkan dan menjunjung tinggi nilai-nilai Islam sehingga terwujud masyarakat Islam yang sebenar-benarnya. "

Berjuang dan Berdakwah dalam Rabithah ini...

“Dan yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman). Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang ada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka. Akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka.” (Al Anfal : 63)

Mari Bergabung Bersama Keluarga IPM Imogiri

" Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik. " (Ali `Imron : 110)

Musyawarah Cabang PC IPM Imogiri

Agenda Kegiatan Kami

Musyawarah Cabang PC IPM Imogiri

Agenda Kegiatan Kami


Tampilkan postingan dengan label opini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label opini. Tampilkan semua postingan

Shalat : Solusi Fundamental Perbaikan Degradasi Moral Bangsa

 Menyoal masalah moralitas bangsa sepertinya sudah terlalu kompleks untukdiperbincangkan. Entah karena memang sudah tingkat akut mungkin masalah yangmendera bangsa ini hingga akhirnya pesimisme selalu menghantui kita untukkembali bangkit dari keterpurukan ini. Mulai dari pejabat pemerintah yang sudahtidak lagi arief dan bijak dalam bersikap hingga rakyat kecil yang relabermandi dosa dengan dalih untuk mencari sesuap nasi. Memang kita tidak bolehmempermasalahkan keadaan saat ini sebagai wujud pembelaan terhadap diri kita.Namun inilah kondisi kenyataan yang tak lain adalah representasi dari bobroknyamoralitas dari segala unsur kehidupan di bangsa ini. Pejabat-pejabat pemerintahsekarang banyak yang tersandung kasus korupsi, skandal dengan perempuan, danmasih banyak lagi. Belum kalau kita bicara masalah remaja saat ini, maka akanmenangis melihat kondisi sekarang. Fenomena westernisasiseperti freesex, narkoba, atau bahkan tawuran seringkali menghiasi mediapemberitaan kita. Seolah mereka telah lepas kontrol dari pakem dan jalurnya.Padahal kalau kita melihat dari Kartu Tanda Penduduk (KTP) mayoritas diantaramereka beragama Islam. Dari sinilah mulai muncul permasalahan apakah Islamsudah tidak lagi memberikan dampak baik bagi pemeluknya? Apakah Islam hanyasebagai simbolisasi dari berbagai kartu identitas kita, tidak lagi merasukdalam jiwa dan menggerakkan dalam setiap langkah kita?
 
 

 
Peranan Shalat
Dalam Islam kita diwajibkan untuk mendirikan shalat sebagai wujud dari penghambaankita kepada sang Khaliq. Shalat adalah satu ibadah yang benar-benar mendapatkanperhatian khus<a></a>us oleh Allah dan sangat ditekankan untukdilakukan. Sebagai contoh orang yang sakit pun masih diwajibkan untuk shalat meskipun dalam kondisi ini Allahmemberikan keringanan dengan sholat dengan duduk ataupun dengan terbaring.Kewajiban shalat hanya akan terhenti saat kita telah tiada meskipun saat itukita masih disholatkan oleh orang-orang disekitar kita.  Salah satu fadhilah shalat adalah akanmenjauhkan diri kita dari tindakan yang keji dan munkar.
Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu,yaitu Al-Kitab (al-Qur'an) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itumencegah dari perbuatan-perbuatan fahsya’ dan mungkar. Dan sesungguhnyamengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadatyang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. 29:45)
 
Sudahjelas dalam ayat diatas dikatakan bahwa shalat sejatinya adalah sebuah bentengyang kita bangun untuk menghindarkan diri kita dari perbuatan yang keji danmunkar. Secara teknis bisa dikatakan kalau kita sudah shalat maka kita akantidak lagi berbuat yang keji dan mungkar. Sebuah implikasi yang logis kalaubisa diterapkan. Abul Aliyah mengatakan di dalam sholat itu ada tiga unsurpenting, yaitu Ikhlas, khosyah ( takut ) dan dzikrullah ( ingat kepada Allah ).Maka jika tiap sholat tidak ada ketiganya, tidaklah disebut sholat. Karenadengan kandungan ikhlas akan mengajak kepada yang ma’ruf, khosy-yah akanmencegah kepada yang mungkar dan dzikrullah akan mencakup makna mengajak ma’rufdan mencegah mungkar. Dengan konsep seperti itulah Shalat memiliki kekuatanuntuk melakukan penjagaan diri yang kuat dari maksiat dan berbagai perbuatankeji dan mungkar.  Inilah idealitas yangsebenarnya dibangun bagi setiap muslim.

Belum Terefleksikan di Kehidupan Nyata
Shalatakan mencegah kita dari perbuatan yang keji dan mungkar. Ini merupakankonsekuensi yang logis yang memang sudah menjadi hakikatnya. Dari sini akan munculsebuah pertanyaan besar disaat Indonesia yang notabene adalah mayoritas muslimtentunya dengan rutinitas peribadatan shalat namun kenapa dalam praktiknyajustru bobrok secara moralitas. Masih banyak di antara yang seringkaliberbohong, mengumpat, dan melakukan perbuatan-perbuatan tercela lainnya. Bahkantak jarang diantara kita yang sudah shalat 5 waktu penuh dalam sehari namunkita masih saja melakukan maksiat. Atau kalau kita tarik ke atas lagi, banyakpejabat kita yang kesehariannya shalat lima waktu namun mereka tak malu untukkorupsi memperkaya diri mereka. Kalau dalam istilah populernya dikenal dengansebutan STMJ atau shalat terus maksiat jalan. Sungguh ironi kalau kitamengkaitkan fungsi shalat sebagai media untuk mencegah dan menahan diri kitauntuk berbuat keji dan mungkar.

Akanmuncul pertanyaan apakah ayat yang menyebutkan bahwa shalat akan menjaga kitadari perbuatan yang keji dan mungkar itu sudah tidak relevan untuk saat ini?Padahal kita sudah tau bahwa Al Quran adalah petunjuk kita yangsebenar-benarnya. Kalau demikian berarti yang menjadi permasalahan bukan karenashalatnya namun menjurus ke kualitas shalat yang dibangun oleh orang tersebut.Apakah shalat yang dilakukan sudah sesuai dengan aturan yang dituntunkanRasulullah SAW. Kemudian setelah semua itu sesuai dengan yang dituntunkanapakah pelaksanaan shalat kita sudah dilakukan dengan khidmat dan khusyu`.  Bagaimana shalat bisa memberikan dampak padakehidupan kita kalau perihal kekusyukan saja masih jauh.
 
Shalat sejatinya digunakan sebagai media untuk menjaga kita dari perbuatan keji danmungkar. Melalui shalat kita bisa mengingat Allah. Dengan mengingat Allahinilah akan tersistem dalam hati kita konsep bagaimana kita bisa menilai suatuperbuatan kita ini baik atau tidak. Disaat kita akan berbuat buruk kita akaningat kepada Allah, disaat kita akan berbohong kita akan ingat kepada Allah,disaat kita akan berbuat curang saat ujian kita akan ingat kepada Allah, disaatkita akan korupsi kita akan ingat kepada Allah. Inilah konsep sederhana mengapashalat akan mencegah kita dari perbuatan keji dan mungkar yakni dari perspektifshalat akan kembali mengingatkan kita kepada Allah.
Kemudianyang kedua melalui shalat kita tentu memanjatkan doa untuk bisa selamat duniaakherat. Banyak doa yang kita panjatkan di dalam shalat, salah satunya adalahkita membaca surat Al Fatihah yang mana didalamnya terdapat doa-doa agar kitaselalu berada di jalan-Nya. Senantiasa diberikan keistiqamahan di jalan yanglurus, bukan jalan orang yang sesat dan bukan jalan yang Allah murkai. Dengandoa-doa yang khusyuk dalam setiap shalat itu maka akan semakin menguatkan kitasebagai media penjagaan diri dari perbuatan keji dan mungkar.
 
 
Shalat Sebagai Solusi Fundamental
KH.Abdullah Gymnastiar dalam konsep perbaikan diri pernah berkata 3 M. Mulai darisaat ini, mulai dari hal yang terkecil, dan mulai dari diri sendiri. Sepertiyang telah disampaikan diatas, bangsa ini memiliki banyak permasalahan yangkian lama kian kompleks. Masih banyak pelajar yang tawuran, freesex, pejabatkita yang korupsi dan lain sebagainya. Kalau kita amati sebenarnya tak bisadipungkiri permasalahan-permasalahan itu bermula dari setiap pribadi yang belumbisa menjaga diri dari maksiat dan kesalahan. Apalagi kalau kita bicara kaummuslimin, bisa dikatakan memang belum semua dari kita yang sudahmerepresentasikan keislaman kita dalam perilaku keseharian kita.
 
Berangkatdari kondisi di atas berarti kita bisa mengambil sebuah logika bahwa kita bisamemperbaiki segala permasalahan bangsa ini dengan memperbaiki pribadimasing-masing sebagai entitas terkecil kehidupan.  Kalau sudah demikian, insya Allah perubahandan perbaikan bangsa secara keseluruhan bisa disikapi. Seperti  kata AA Gym, kita bisa memulai perbaikansekompleks apapun melalui perbaikan dari hal yang paling kecil yakni melaluimasing-masing personal untuk memperbaikan sebuah bangsa. Setelah itu yangmenjadi permasalahan adalah bagaimana kita bisa memperbaiki pribadi masing –masing tersebut.
 
Darisinilah kita bisa mengimplementasikan Shalat sebagai media perbaikan dirisecara fundamental. Shalat sebagai media penjagaan diri dari perbuatan menyimpangdan maksiat. Tentunya kita bisa membuktikan itu semua jika melakukan shalatsesuai dengan mekanisme yang diteladankan Rasulullah, khusyuk dan runtut melakukanrukun-rukun shalat serta menghayati maksud dari setiap doa yangdipanjatkan.  Insya Allah kalau kitabenar-benar memahami setiap doa yang kita panjatkan dalam setiap sujud, rukuk,dan setiap fase dalam shalat, kita akan terjaga dalam beraktivitas sehari-haridari perbuatan tercela ataupun maksiat. Apalagi dalam setiap hari kita minimalmelakukan shalat sebanyak lima kali. Dari pagi shalat shubuh hingga shalat isyadi malam harinya. Insya Allah setiap selang antara shalat yang satu dengan yanglain kita akan terjaga dari berbuat keji dan munkar kalau kita benar-benarmemahami apa itu esensi shalat beserta segala kekhusyukan doa yang kita panjatkan. Sehingga kalau setiap entitas paling fundamental yakni setiappersonal sudah terjaga Insya Allah kalau kita generalisasi Bangsa Indonesia yang mayoritas muslim ini akan memiliki perilaku islami dan bermoral. Akhirnyaberbagai permasalahan bangsa akan perlahan-lahan tersikapi dan terselesaikankalau ini benar-benar dilakukan dengan penuh konsistensi dan istiqamah. Hal initidaklah mustahil karena perubahan sebesar apapu pasti dimulai dari perubahanyang kecil. Untuk memperbaiki degradasi moralitas bangsa kita mulai denganmemperbaiki setiap pribadi masing-masing.

Oleh: Phisca Aditya Rosyady
Ketua Bidang Kajian Dakwah Islam PC IPM Imogiri

Kiat Sukses Ujian Akhir Semester dengan NYONTEK


 
Ujian akhir semester telah di depan mata. Setelah berbulan-bulan lamanya berkutat dengan tugas dan pelajaran yang menguras tenaga, memeras otak, membuat lapar, dan mata berkunang-kunang, sebentar lagi hasil belajar kalian akan ditentukan dalam waktu satu mingguan saja. Pasti di antara kalian banyak yang takut bin ngeri mendengar kata ujian kenaikan kelas ini karena kalau gagal, kalian bakal tinggal kelas. Apalagi buat yang lagi baru-barunya mencicipi tahun pertama di sekolah. Dijamin rada parno sama yang satu ini. So apike pie? Oke.. mari disimak tips-tips menaklukan si ujian kenaikan kelas.



Cara yang paling ampuh yaitu NYONTEK. Eits ini bukan nyontek yang itu-itu. Bukan sejenis “Ngepek” yang caranya dengan membuat kertas contekan, nulis di tangan, pakai hape. Nyontek yang begituan udah nggak jaman. Nyontek cuma bikin pikiran buntu, otak ngadat, dan madesu alias masa depan suram. Kebiasaan nyontek yang begituan hanya akan membiasakan kalian tergantung kepada yang lain. Malu kan ya udah gedhe masih tergantung yang lain. Udah gitu nyontek juga akan membuat kita jadi pemalas kayak kebo habis kejedot trotoar. Haha makin nggak banget. Dan yang parahnya, nyontek itu sama dengan nggak jujur, artinya saat kalian nyontek itu udah dosa besar apalagi nyontek yang udah dibudidaya sampai beranak pinak. Mau jadi the new Gayus Tambunan of the year? Nggak kan ya? Haha so, mari kita mulai ujian dengan NYONTEK yang baik, benar, dan halal.
NYONTEK alias NYinau, Obah, Niteni, Takon, Eling, dan Khusnudzon. Nyinau atau belajar berarti untuk sukses ujian akhir kalian harus belajar. Iya tho ya? Lah gimana bisa ngerjain soal kalau belajar aja enggak. Ya tho? (harus iya pokoke) Hehe berikutnya adalah Obah atau bergerak. Maksudnya kalian jangan males-malesan, kebanyakan tidur, buat yang ikut Bimbel ya jangan males berangkat, dan jangan males gerak-gerakin badan alias olahraga karena dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat, kalau kata Spongebob sih “Men sana in Corporesano” jadi kalau badan sehat, otak akan lebih enak dalam belajar ataupun saat mengerjakan soal nanti. Berikutnya adalah Niteni, maksudnya jangan belajar tidak boleh sekedar menghafal saja karena jika hanya dihafal akan cepat lupa tapi kalian harus paham, bisa niteni setiap ilmu yang kalian pelajari, dengan begitu materi yang sudah dibaca nggak akan mudah menguap alias lupa. Habis Niteni terus Takon atau bertanya. Jadi kalau kaliah sudah belajar, sudah mencoba memahami tapi ada yang belum paham maka bertanyalah kepada siapapun yang sekiranya tahu. Tapi awas jangan tanya jawaban pas ujian. Hehe next tips is Eling alias ingat. Maksudnya adalah kalian harus selalu ingat dengan Allah, lebih mendekatkan diri kepadaNya misalnya dengan perbanyak berdoa, tadarus, sholat tahajut, sholat duha, puasa, dan ingat Allah juga pas ujian karena Allah selalu mengawasi gerak gerik makhlukNya maka jujurlah saat mengerjakan uijan. Lebih bagus lagi kalau ini dilakukan bukan hanya pas mau ujian aja tapi juga setiap hari sehingga bukan hanya lolos dari ujian akhir semester tapi juga lolos dari ujian-ujian hidup (halah). Selain mengingat Allag ingat juga kedua orangtua, jangan lupa minta doa restu ya sebelum ujian. Nah tips terakhir adalah Khusnudzon atau berprasangka baik. Berprasangka baiklah kepada Allah bagaimanapun hasil ujiannya, bila hasilnya baik maka berkhusnudzonlah bahwa Allah menyayangi kalian sehingga memberi hadiah berupa nilai yang baik agar kalian termotivasi menjadi lebih baik, nah kalau hasilnya belum memuaskan juga tetap berkhusnudzonlah karena berarti Allah teramat menyayangi kalian sehingga Dia memberi cobaan tersebut agar kalian mau terus berusaha meningkatkan kualitas hidup kalian masing-masing.
Nah itu dia tips NYONTEK yang halal, aman, dan benar. Semoga bermanfaat untuk ujian kenaikan kelasnya. Sukses NYONTEK ceman-ceman.. ^_^

Elvika Mar`atul Khusna
PC IPM Imogiri
Mahasiswa Fakultas Teknologi Pertanian UGM

Ujian Nasional : Perlukah dilanjutkan ?

Penerapan sebuah sistem atau kebijakan baru sudah pasti akan memiliki dampak  yang baru pula, walaupun sistem  baru ini sudah diputuskan berdasarkan analisis hasil evaluasi, kritik, saran dan masukan dari berbagai pihak sebelumnya, namun dampak positif dan negatifnya akan senantiasa mengikuti perjalanan sebuah sistem baru tersebut, termasuk dengan penerapan penyelenggaraan UN pada tahun 2013 ini.


Hampir sebagian besar dari masyarakat berpendapat bahwa UN bukanlah cara efektif untuk menentukan nilai sebuah kelulusan. Banyak dari mereka yang menyayangkan adanya pelaksanaan ujian tersebut, termasuk dengan UN 2013 ini. Hal itu dapat kita lihat dari berbagai aksi penolakan yang mereka lakukan terhadap pemerintah baru-baru ini. Selama ini UN dianggap pemerintah sebagai alat tolok ukur untuk meningkatkan kualitas pendidikan agar lebih baik, namun bagi pelajar yang menjalankan UN, ujian ini hanya dijadikan instrumen kelulusan yang sangat ditakuti. Faktanya, kini UN telah menjadi momok dan tolak ukur keberhasilan siswa dan sekolah. Dikatakan menjadi momok karena memang UN menjadi muara dari proses pembelajaran selama 3 tahun menempuh studi, tetapi cukup ditentukan oleh UN yang hanya beberapa materi pelajaran saja dalam beberapa jam, sesuatu hal yang kurang tepat untuk menilai seseorang mampu dan tidak mampu hanya dari satu aspek intelektual saja.
Memang sudah sepatutnya UN dikembalikan fungsinya sebagai pemetaan kualitas sekolah dan tenaga kependidikan, karena yang menjadi patokan kelulusan siswa adalah nilai dan ijazah yang dikeluarkan sekolah. Dalam hal ini, yang lebih tahu persis track record siswa selama sekolah adalah guru dan pengelola sekolah yang bersangkutan. Bukankah orientasi pendidikan adalah proses, sedangkan hasil (lulus/tidak lulus) adalah konsekuensi dari proses, yang rasanya tidak cukup hanya dengan nilai kognitif beberapa mata pelajaran semata.
Apalagi kalau kita kembali menilik pelaksanaan Ujian Nasional 2013 kemarin yang sangat amburadul. Distribusi dan kualitas lembar soal yang sangat buruk harus membuat siswa yang sudah panik tambah panik lagi. Bahkan ada dalam sebuah pemberitaan seorang siswa yang bunuh diri karena stress menghadapi UN. Telisik punya telisik diduga UN tahun ini ada "permainan" kotor dalam proses tender percetakan sehingga kualitas dan kinerja percetakan tak sesuai yang diharapkan. Belum lagi pelaksanaan yang kacau balau. Kalau sudah semacam ini, apakah masih layak UN digunakan sebagai parameter kelulusan siswa ?

Oleh : Dewi Apriani 
Kader PC IPM Imogiri/Mahasiswa Poltekkes Kemenkes Yogyakarta





IPM : Manifestasi Gerakan Dakwah Kultural Muhammadiyah di Kalangan Pelajar*



Kritis dan Progressif selalu saja menjadi hal yang pantas disematkan untuk menggambarkan geliat semangat para pelajar dari dulu sampai sekarang. Mengambil peranan sebagai kalangan intelektual tidaklah mudah bagi kaum pelajar yang notabene masih belia. Namun bukan berarti pelajar  tidak mampu mengambil peranan itu. Tak dapat dipungkiri  justru banyak perubahan-perubahan yang besar bermula dari sentuhan-sentuhan tangan kecil pelajar. Lihat saja, kebangkitan pergerakan nasional sebelum kemerdekaan Republik Indonesia bermula dari pelajar-pelajar pribumi yang menuntut ilmu di Indonesia maupun di luar negeri, seperti Dr. Soetomo, Wahidin Sudirohusodo, Bung Hatta dan masih banyak lagi. Berangkat dari sinilah pelajar memang tak bisa diremehkan lagi, mereka memiliki peranan penting dalam memberikan kontribusi untuk agama, negara, bangsa, dan masyarakat di sekitarnya.



Geliat Lembaga Dakwah Sekolah
Usia pelajar secara psikologis merupakan usia dimana semangat itu menggebu-gebu. Selaras dengan itu, pelajar memiliki curiosity yang sangat tinggi, sehingga akan memotivasi mereka untuk terus aktif dan berkontribusi, termasuk dalam upaya dakwah Islam dikalangan mereka. Fenomena ini bisa kita amati dengan merebaknya lembaga-lembaga dakwah yang mengambil student oriented sebagai segmentasinya. Mulai dari Pelajar Islam Indonesia (PII), Kesatuan Aksi Pelajar Muslim Indonesia (KAPMI), Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM), Ikatan Pelajar Nahdhotul Ulama (IPNU) sampai lembaga yang hampir ada disetiap sekolah negeri yakni Rohani Islam atau yang akrab dikenal dengan sebutan Rohis.
Sekilas Tentang Organisasi IPM
IPM sebagai salah satu lembaga dakwah yang memiliki basis dakwah di sekolah-sekolah Muhammadiyah juga turut andil dalam proses sporadisasi nilai-nilai islam di kalangan pelajar. Organisasi otonom yang secara struktural maupun kultural memiliki kedekatan dengan persyarikatan Muhammadiyah ini kebanyakan memang masih fokus di sekolah-sekolah swasta milik persyarikatan Muhammadiyah. Meskipun tidak bisa dipungkiri, IPM kini telah memperluas dakwahnya ke sekolah-sekolah negeri ataupun pelajar umum. IPM merupakan organisasi yang memang dimaksudkan untuk mewadahi pelajar-pelajar di tingkat SMP dan SMA atau yang sederajat. Satu-satunya lembaga dakwah berbasis pelajar yang pernah menjadi OKP terbaik di Indonesia ini memang memiliki struktural yang rapi dan sistematis. Mulai dari pimpinan pusat (PP), pimpinan wilayah (PW), pimpinan daerah (PD), pimpinan cabang (PC), hingga tingkatan grassroot yakni pimpinan ranting (PR) yang ada di sekolah-sekolah Muhammadiyah. Dilihat dari segi kadernya IPM meng-klaim semua pelajar Muhammadiyah merupakan anggota IPM. Inilah salah satu sumber kekuatan dakwah yang dimiliki IPM yang menjadi modal semangat dakwah kader-kadernya.
Laku Dakwah IPM dan Dinamika Pelajar

Muhammadiyah sebagai gerakan Islam memiliki cita-cita ideal yaitu mewujudkan “masyarakat Islam yang sebenar-benarnya”. Dengan cita-cita yang ingin diwujudkan itu Muhammadiyah memiliki arah yang jelas dalam gerakannya.Cita-cita ideal yang ingin diwujudkan Muhammadiyah terkandung dalam rumusan maksud dan tujuan, yakni “menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam sehingga terwujud masyarakat Islam yang sebenar-benarnya” (Bab III. Pasal 6).  Untuk membumikan dakwahnya di berbagai usia dan kalangan, Muhammadiyah mengepakkan sayapnya melalui organisasi otonomnya, seperti `Aisyiyah, NA, IMM, dan IPM. IPM adalah satu-satunya organisasi otonom yang bergerak di kalangan pelajar. Dalam hal ini, sesuai dengan cita-cita Muhammadiyah yakni meuwujudkan masyarakat Islam yang sebenar-benarnya, IPM pun membawa cita-cita yang hampir sama. Cita-cita IPM adalah Terwujudnya pelajar muslim yang berilmu, berakhlak mulia, dan terampil dalam rangka menegakkan dan menjunjung tinggi nilai-nilai Islam sehingga terwujud masyarakat Islam yang sebenar-benarnya.

Menilik dari cita-cita di atas menunjukkan bahwa IPM juga turut berkontribusi dalam mengambangkan laku dakwah di kalangan sekolah. IPM hampir sama dengan lembaga dakwah sekolah lainnya, membidik para pelajar dalam kegiatan-kegiatan dakwahnya. IPM melalui salah satu bidangnya yang konsen di bidang dakwah yakni Kajian Dakwah Islam (KDI) bertugas meningkatkan pemahaman kepada pelajar terkait islam baik secara keilmuan maupun pengamalan. Biasanya IPM melalu bidang KDI ini mengadakan berbagai macam kegiatan yang berkaitan dengan keislaman, mulai dari kajian rutin, diskusi keislaman, tadarus, hingga menerbitkan bulletin-buletin dakwah.

Berdakwah di sekolah Muhammadiyah ternyata tak semudah yang mungkin dipikirkan orang banyak. Bukan bermaksud untuk mendiskreditkan siapapun, namun harus diakui di sekolah Muhammadiyah tak sedikit terdapat pelajar-pelajar yang nakal dan brutal (kemudian disebut pelajar “tak biasa”). Bahkan dalam paradigma pelajar tak biasa, sekolah hanyalah sebagai kegiatan untuk bisa bertemu dengan teman, tawuran, bahkan untuk merokok. Inilah beberapa alasan kenapa ada sebagian dari diri kita yang menyatakan Sekolah Muhammadiyah itu memang ada yang berstatus second class. Dalam kasus ini istilah second class yang disematkan lebih mengarah ke perihal finansial. Artinya jika di sekolah negeri tidak mampu membayar biaya pendidikan maka para calon pelajar itu memilih sekolah Muhammadiyah karena disana untuk urusan finansial tidak menjadi urusan yang penting. Hal ini karena sekolah Muhammadiyah menghiraukan masalah itu, yang terpenting adalah bisa semaksimal mungkin membantu para calon pelajar agar tetap sekolah meskipun tanpa biaya apapun, urusan biaya toh nanti bisa diupayakan diakhir. Kondisi inilah membuat Muhammadiyah seperti makan buah simalakama, disatu sisi ingin membantu pelajar yang sulit dalam finansial namun di sisi lain ada kemungkinan mendapatkan pelajar yang “tak biasa” itu, karena seringkali tanpa dilakukan seleksi seperti di sekolah-sekolah negeri. Namun dalam kondisi ini justru menjadi tantangan IPM saat berdakwah di sekolah Muhammadiyah jika dibandingkan berdakwah di sekolah lainnya (sekolah negeri) yang dilakukan rohis atau semacamnya..

Berangkat dari kondisi itulah, IPM sebagai organisasi satu-satunya yang ada di sekolah mempunyai tanggung jawab untuk bisa mengubah paradigma dan tingkah laku pelajar-pelajar “ tak biasa” itu. Sehingga boleh dikatakan segmentasi dakwah IPM menjadi sedikit bias. Dakwah untuk golongan yang pelajar yang biasa (pelajar yang mudah diatur) dan pelajar “tak biasa”.  Kader dan aktivis IPM di tingkat sekolah (tingkat ranting) dituntut untuk merumuskan strategi-strategi yang jitu untuk mengkondisikan pelajar-pelajar yang notabene beragam kondisinya itu. Harus ada inovasi-inovasi dakwah yang ditelurkan IPM agar bisa benar-benar mewujudkan pelajar yang islam dengan sebenar-benarnya.

IPM pun telah mengemas dakwah mereka dalam berbagai cara. Dakwah secara konvensional yakni dengan mengadakan kajian-kajian, tadarus dan perkaderan dai seperti mubaligh hijrah. Dakwah ini ditujukan kepada pelajar-pelajar yang sudah mulai memahami islam. Meskipun dalam teknisnya tidak menuntut kemungkinan pelajar yang “tak biasa” juga turut mengikuti kegiatan-kegiatan ini. Untuk metode dakwah ini secara teknis akan digarap oleh teman-teman di bidang Kajian Dakwah Islam (KDI).

Selain cara ini, agar dakwah IPM bisa menyentuh ke ranah pelajar-pelajar yang “tak biasa” maka IPM memasivkan dakwah melalu pendekatan-pendekatan kultural dan personal. Untuk cara ini ada dua tahapan yang perlu dilakukan, yakni tahap pendekatan dan tahap pemahaman. Untuk tahap pendekatan bisa dilakukan dengan mengambil aspek hobi yang disukai dan digeluti para pelajar. Dengan cara inilah pelajar akan mulai tertarik karena mereka sudah enjoy disana. Dalam menggencarkan misi dakwahnya melalui cara ini, IPM bisa melalui bidang Pengembangan Ilmu Pengetahuan & Seni Islam (PIPSI), membuat program-program yang memfasilitasi dan mengakomodir hobi dari teman-teman pelajar. Bisa membuat komunitas jurnalistik yang mungkin nanti diarahkan membuat bulletin dakwah. Mulai dari membuat bulletin saja kita bisa membuka peluang teman-teman pelajar yang hobi design grafis, hobi nulis puisi, artikel, ataupun cerpen. Opsi lain, IPM bisa mengembangkan sayap dakwahnya di media tarik suara, dibeberapa sekolah sudah ada yang membentuk group nasyid ataupun group band pelajar. Cara ini dirasa cukup jitu mengambil hati dari pelajar-pelajar yang suka dengan musik, entah pelajar yang sudah mengenal islam ataupun belum dekat dengan islam. Hal yang terpenting pada cara dakwah ini adalah menarik hati pelajar-pelajar itu ke dalam IPM terlebih dahulu, barulah setelah mereka merasa enjoy dengan pendekatan itu, IPM bisa memulai tahap yang kedua yakni tahap pemahaman. IPM mulai menanamkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan mereka tentunya dengan pendekatan yang santun dan pengemasan yang menarik. Dengan cara inilah ekslusivisme lembaga dakwah sekolah yang mungkin sekarang ini dirasa tidak akan berlaku di IPM. Namun justru dengan cara inilah, pelajar-pelajar itu akan merasa nyaman dan tak takut mengenal dan memahami Islam lebih jauh.

Dalam perspektif dan uraian diatas, IPM hadir sebagai gerakan dakwah kultural yang lebih inklusif dan terbuka. Mungkin benar ungkapan “Air cucuran jatuhnya ke pelimbahan juga”, laku dakwah IPM mirip dengan ayahnya (Muhammadiyah). Gerak dakwah IPM termanifestasikan dalam kegiatan-kegiatan yang bergerak melalui pendekatan-pendekatan secara kultural. Dengan cara inilah, IPM akan mampu menjadi garda depan dan komplemen dalam gerak langkah dakwah di kalangan pelajar, khususnya pelajar di sekolah Muhammadiyah dan umumnya pelajar di Indonesia. Sehingga terwujudnya pelajar Islam yang sebenar-benarnya tidak akan menjadi isapan jempol belaka. Pelajar yang menjadi tiang untuk meneguhkan Agama Allah di muka bumi ini.

*Penulis :
Phisca Aditya Rosyady
Ketua Umum Pimpinan Cabang
Ikatan Pelajar Muhammadiyah Imogiri