Puasa di Jepang sebenarnya sama dengan di Indonesia, yakni menahan haus dan lapar serta godaan lainnya. Hanya saja, jika di Indonesia setiap tahun dilalui dengan musim dan iklim yang sama. Di Jepang bisa melalui musim yang berbeda. Bulan puasa di “Negeri Sakura” Jepang biasa dilalui dalam empat episode. Yaitu episode musim panas, gugur, dingin, dan musim semi. Musim panas pada Juni-Agustus, musin gugur September-November, musim dingin Desember-Februari, dan musim semi Maret-Mei.
Tingkat keletihannya juga berbeda-beda di setiap musim. Kalau saat musim panas keimanan betul-betul diuji. Selain memakan waktu yang panjang karena sahurnya cepat dan berbuka lambat sekali, karena siang yang sangat panjang, diiringi terik matahari yang menyengat.
Musim dingin puasanya singkat, tapi tingkat perasaan lapar lebih tinggi karena diiringi dengan suhu yang sangat dingin. Terkadang bisa di bawah nol. Sedangkan musim gugur dan musim semi, suasananya hampir mirip dengan di Indonesia.
Jika musim panas suhu bisa di atas 35, bahkan 39 derajat. Berbeda dengan di Indonesia, kelembaban di Jepang lebih tinggi, sehingga terasa lebih panas.
Di Jepang, gebyar Ramadhan dari tahun ke tahun hanya bisa dinikmati di area masjid dan Islamic Center saja, karena Jepang bukanlah negara Muslim, meskipun agama Islam sudah menjadi bagian dalam kehidupan bermasyarakat di Negara Matahari Terbit itu.
Sepinya nuansa Ramadhan di luar tembok masjid di Jepang tidak mempengaruhi kaum muslimin untuk memanfaatkan bulan penuh rahmat ini. Salah satunya, sebagaimana tradisi dari tahun ke tahun hampir di setiap masjid yang jumlahnya masih belum terlalu banyak, selalu menggelar acara berbuka puasa bersama, shalat tarawih dan bagi kaum muslimin yang ingin i’tikaf di masjid, maka ada sebagian masjid yang mengadakan kegiatan i’tikaf sampai menyediakan menu santap sahur agar para ‘tamu’ Allah itu tenang dalam menjalankan ibadahnya. Hal ini dilakukan, karena mencari makanan halal saat malam tiba, cukup sulit di Jepang.
Bagi warga muslim asli Indonesia yang tengah berada di Jepang, khususnya di wilayah Tokyo dan sekitarnya, biasanya mereka dapat merasakan cerianya Ramadhan dengan mengikuti rangkaian acara di Balai Indonesia Meguro Tokyo. Balai ini bukanlah masjid, tapi jika Ramadhan tiba, sport hall-nya dalam sekejap di sulap menjadi masjid. Di gedung tua inilah, maraknya ramadhan sangat terasa. Setiap hari, selama sebulan penuh ada acara shalat tarawih bersama yang kemudian dilanjutkan dengan acara kajian bersama ustadz yang didatangkan dari Indonesia.
Selama satu bulan penuh ada empat orang ustadz yang memberikan siraman rohani kepada masyarakat muslim Indonesia yang ada di Jepang. Kehadiran ustadz dari Indonesia ini biasanya mengobati kerinduan muslimin Indonesia yang haus akan ilmu agama. Bukan berarti selama ini mereka tidak belajar Islam, namun ada nuansa lain jika warga muslim Indonesia yang telah bermukim lama di Jepang mendapatkan siraman rohani dari ustadz-ustadz yang di datangkan langsung dari Indonesia.
Dan setiap hari minggu sore ada acara kajian yang dilanjutkan dengan berbuka puasa bersama gratis. Biasanya pada setiap hari minggu selama bulan ramadhan ratusan umat Islam Indonesia mulai dari staf kedutaan, pelajar, warga muslim Indonesia yang bekerja di sektor swasta, serta para traine berkesempatan beramah-tamah. Di samping itu, saat berbuka puasa bersama ini juga waktunya berwisata kuliner Indonesia setelah lama tidak mencicipi lezatnya masakan khas Indonesia, seperti kolak, soto ayam, bakso, dan lain-lainnya. Acara akbar ini dikoordinasi oleh KMII Jepang (Keluarga Masyarakat Muslim Indonesia) yang berpusat di Tokyo.
Banyak orang Jepang yang tidak tahu apa Islam, apa itu masjid, sekalipun Islam telah masuk ke Jepang sejak tahun 1877. Barangkali karena ketidaktertarikan orang Jepang terhadap agama. Dalam artikelnya di Harvard Asia Quarterly, Michael Penn mensinyalir bahwa banyak orang yang pasti berkesimpulan tidak ada hubungan antara orang Jepang dan Islam, karena di satu pihak Islam mempercayai monoteisme, sedangkan Jepang lebih kental polyteisme atau bahkan animisme. Tapi sebenarnya banyak peninggalan bersejarah yang menunjukkan bahwa Jepang punya hubungan yang erat dengan Islam.
Banyak peneliti studi Islam di beberapa universitas Jepang telah berhasil membuka fenomena ini. Tempat-tempat ibadah bagi orang Jepang bukanlah tempat ibadah, tapi lebih merupakan tempat wisata. Demikian pula dengan masjid di Jepang. Ya, barangkali dengan kedatangannya ke masjid-masjid, walaupun sekedar untuk berekreasi, Allah akan membukakan hati mereka. Dalam 5 tahun terakhir kecenderungan orang Jepang untuk beragama terus meningkat dan Islam menjadi pilihan yang menarik bagi orang Jepang.
Islam masuk ke Jepang sudah sejak 200 tahun lalu melalui para pedagang muslim. Sebagian WN pribumi Jepang yang masuk Islam di luar negaranya kembali ke sana menyebarkan Islam. Jumlah kaum Muslimin dari WN pribumi Jepang ada sekitar 100 ribu orang. Sedangkan kaum Muslimin non WN asli Jepang dari kalangan pendatang yang tinggal di Jepang mencapai 150.000 orang Muslim.***
(www.modusaceh.com)
gambar diambil dari putrahermanto.files.wordpress.com